Rss Feed

Tentang Mengidolakan Sesuatu/Seseorang

(credit: sodahead.com)

Tadi pagi saya baru nonton film berjudul Misery, sebuah thriller psikologis lumayan menegangkan yang diangkat dari novel yang dikarang oleh maestro novel horror Stephen King. Ceritanya tentang seorang penulis novel terkenal yang diculik oleh penggemar beratnya sendiri. Diceritakan bahwa Annie, nama si penggemar berat tersebut, sangat terobsesi dengan penulis tersebut beserta karya-karyanya, terutama tokoh perempuan bernama Misery yang merupakan tokoh utama dalam novel karya penulis pujaannya tersebut. Ketika Annie membaca seri novel Misery yang terbaru, ia marah-marah karena tokoh Misery ini dimatikan oleh si pengarang. Annie pun memaksa si penulis untuk menulis ulang kisah dalam novel tersebut dan kembali menghidupkan tokoh Misery. Dan horror pun bermula di situ.

Saya bukan mau ngereview film ini di sini. Ada satu hal yang menjadi perhatian saya ketika menonton film ini, yaitu karakter Annie Wilkes yang diperankan dengan sangat cemerlang oleh Kathy Bates. Tokoh ini mengaku-ngaku sebagai penggemar nomor satu penulis tersebut. Dan pengakuannya tersebut bukan bohong belaka. Ia mengetahui semua hal tentang penulis tersebut, bahkan sampai membuntutinya ke sana kemari. Dan ia memang bukan penggemar biasa. Ia sangat terobsesi pada penulis tersebut. Ia bahkan sampai berkata kira-kira begini kepada penulis tersebut: “Jika kamu mati, maka aku pun akan mati.”

***

Setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya mengidolakan sesuatu/seseorang. Ada yang mengidolakan aktor/aktris, penulis, penyanyi, atlet, dan banyak lagi. Namun, setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam menunjukkan perhatiannya pada idolanya. Jika yang diidolakannya adalah seorang aktor/aktris, cara paling sederhana yang ia tunjukkan adalah dengan menonton semua film yang dibintangi aktor/aktris pujaannya tersebut. Atau meniru gaya dandanan aktor/aktris tersebut, dan membeli berbagai hal yang berhubungan dengan aktor/aktris pujaannya tersebut. Bahkan ada yang lebih jauh lagi yaitu mencari segala hal tentang aktor tersebut, bahkan yang bersifat personal seperti di mana tempat tinggalnya, ayah ibunya kerjanya apa, apa nama anjing peliharaannya, dan semacamnya. Yang paling parah, ada yang sampai membuntuti aktor/aktris pujaannya tersebut. Segala hal bisa dilakukan seorang penggemar untuk membuatnya merasa dekat dengan idolanya.

Jika kamu membaca blog ini dari awal, kamu pasti tahu bahwa saya termasuk orang yang gampang mengidolakan sesuatu/seseorang. Mulai dari boyband jejonisan macam NEWS atau Hey! Say! JUMP, band Jepang macam Laruku atau Tokyo Jihen, aktor macam Eita atau Ryo Kase, dan banyak lagi. Bahkan mungkin ada yang mencap saya fans labil atau gak setia, karena saya gampang berpindah idola.

Namun, hal itu membuat saya merasa ‘sehat’ dalam mengidolakan sesuatu. Iya, saya suka banget sama Tokyo Jihen. Tapi yang saya suka cuma sebatas karya-karya mereka. Saya masih sering lupa nama lengkap semua personilnya. Saya gak tau tanggal lahir mereka kapan. Saya gak punya semua penampilan live mereka. Saya gak punya cd/dvd original mereka (tapi suatu saat, kalo ada duit saya pasti beli album original mereka). Hal terjauh yang saya lakukan untuk menunjukkan rasa suka saya pada mereka cuma satu, beli kaos berlambang band ini dari Kaskus. Saya sangat menyukai mereka, tapi ya cuma itu, sebatas musiknya aja.

Ketika saya mengidolakan aktor-aktor ganteng macam Eita, Ryo Kase, Satoshi Tsumabuki, dan kawan-kawannya pun, yang saya lakukan untuk menunjukkan rasa suka tersebut paling hanyalah menonton penampilan mereka di film2/dorama2, atau mengkoleksi fotonya dari internet. Saya gak pernah tertarik buat tahu lebih jauh tentang mereka (kecuali yang berkaitan dengan karir mereka). Saya gak tertarik tuh buat menelusuri dia ini anaknya siapa, saudaranya ada berapa biji, dan hal-hal lainnya. Dulu, pas awal ngefans Jejonisan, saya sempat seperti itu sih. Nyari tau hal-hal seperti tipe cewek idola saya kayak gimana sih *malu*. Ya, mungkin karena udah bertambah tua dewasa ya, jadi perasaan mengidolakan sesuatu yang menggebu-gebu seperti itu semakin lama meredam dengan sendirinya. Atau mungkin karena saya mulai tertarik dengan hidup saya sendiri? Well, mungkin.

Tapi ya mengidolakan sesuatu/seseorang itu memang menyenangkan, bukan? Ketika mengidolakan seseorang, kita jadi lebih bersemangat karena ingin selalu melihat idola kita tersebut. Dengan senyumnya*tsaah*, kita seolah-olah diberi harapan untuk hidup. Ya asal jangan sampai terobsesi parah kayak Annie Wilkes aja. Saya sendiri sadar kalau saya tidak akan pernah berhenti dalam mengidolakan sesuatu/seseorang, karena jiwa fangirl ini kayaknya udah ada dari lahir. Namun, saya menolak jadi fans yang obsesif. Makanya, saat ini saya hobi mengeksplor sesuatu. Misalnya musik, saya mencoba untuk tidak mendengar satu atau dua band/penyanyi saja, saya suka mencari lagu dari band/penyanyi yang belum pernah saya dengar (asal bagus). Saya mencoba untuk menonton banyak film. Tidak hanya satu genre saja, dan tidak hanya satu negara saja. Ini cara yang saya lakukan agar saya jadi tidak terobsesi pada suatu hal. Ya, semua orang sah saja melakukan apapun dalam mengidolakan idolanya, asal caranya sehat aja, dan gak sampai melakukan cara seperti menculik idola tersebut, seperti yang dilakukan Annie Wilkes J

0 candies: