Kertas adalah sahabatku. Para pecinta lingkungan mungkin akan membenciku karena aku begitu boros memakai kertas. Kertas adalah salah satu teman terbaikku. Di mana ada kertas kosong, aku pasti langsung menghiasinya dengan goresan tinta penaku. Jika persediaan kertasku habis, aku akan langsung pergi ke warung untuk sekedar membeli kumpulan kertas baru dalam bentuk buku tulis. Jika tidak begitu, maka aku akan mengobrak-abrik isi rumah untuk menemukan kertas yang bisa aku coreti. Aku sangat senang mencorat-coreti kertas. Tidak heran jika tanganku tidak pernah seratus persen bersih, selalu saja ada coretan pena yang tidak sengaja mengenai tanganku ketika aku sedang mencorat-coreti kertas. Tapi sampai sekarang aku belum tertarik untuk mencorat-coreti tanganku sebagai pengganti kertas. Kamu tetap teman terbaikku kok, kertas!
Padahal, tulisan tanganku tidak bisa dibilang bagus. Yang melihatnya pasti tidak percaya kalau aku perempuan. Perempuan itu tulisan tangannya mestinya bagus, kata orang-orang. Tetapi aku tidak peduli. Aku tetap suka mencorat-coreti kertas dengan tulisan tanganku yang jelek. Yang penting aku bisa membacanya. Hal-hal yang aku temui di majalah, buku, internet, sering aku pindahkan ke atas kertas. Kusalin lagi untuk kubaca berulang kali. Selain menghiasinya dengan tulisan, aku juga sering menghiasinya dengan gambar-gambar yang tidak bisa dibilang bagus. Aku paling suka menggambar wajah perempuan dengan gaya seperti pada komik Jepang. Mata super besar dan lentik serta pipi merah merona, dengan gaya rambut yang beraneka rupa. Tapi aku tidak suka menggambar badannya, aku hanya suka menggambar wajah. Mungkin karena aku tidak bisa menggambar badan makanya aku jadi tidak suka. Hal itu sering terjadi pada kalian juga, kan? Kadang manusia sering tidak menyukai berbagai macam hal hanya karena mereka tidak bisa melakukannya. Contoh lainnya adalah aku yang tidak suka olahraga. Mungkin lebih tepatnya aku tidak suka karena aku tidak bisa olahraga. Kalau aku bisa, yang terjadi mungkin sebaliknya. Aku akan mencintai olahraga dan mungkin sudah menjadi atlet sekarang.
Duh, aku makin ngelantur saja. Kembali padamu kertas, aku minta maaf karena kadang aku sering menyakitimu. Ketika aku menulis sesuatu yang buruk di atasmu, aku tiba-tiba menyobekmu atau meremasmu menjadi sebuah bulatan, dan melemparkanmu ke tempat sampah. Padahal aku menganggapmu sahabatku, tapi kenapa aku melakukan hal yang buruk padamu? Apakah dalam persahabatan sesama manusia pun begitu, kertas? Terkadang tanpa sengaja kita menyakiti sahabat kita. Terkadang kita bahkan tidak menyadari kalau kita telah menyakiti sahabat kita tersebut. Aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya, namun aku akan terus berusaha untuk tidak mengulangi hal tersebut, ya kertas? Kamu mau memaafkanku kan, kertas?
Kertas, sekarang ini aku mulai sedih karena hubunganku denganmu semakin jauh. Ketika aku mau menulis, kadang-kadang aku malah lebih memilih menyalakan komputer dan menulis di Microsoft Word daripada menulis di atasmu. Aku semakin melupakanmu, kertas. Mungkin aku memang egois, ada yang lebih bagus dari kamu, aku mulai melupakanmu. Apalagi menulis dengan komputer tidak membuatku secapek saat aku menulis di atasmu, ditambah lagi menulis dengan komputer tidak membuat tanganku kotor karena tidak sengaja terkena tinta. Maafkan aku, kertas. Tapi aku tetap mau jadi sahabatmu. Kamu mau kan, tetap menjadi sahabatku?
(-Priska, yang tiba-tiba kegirangan karena menemukan satu buah buku tulis kosong di rak buku kostan, rasanya seperti bertemu kembali dengan teman lama *dan buku tulis itu pun dengan cepat dipenuhi coretan-coretan gak penting dari saya :P*)
gambar diculik dari sini



2 candies:
ih waw.
by the way, kegiatan mendaur ulang kertas itu asik banget lho! hahaha.
beneran.
ah tapi aku lebih suka mencorat-coretinya. udah didaur ulang pasti aku langsung corat-coret lagi *dilempar para pecinta lingkungan di seluruh dunia*
Post a Comment